Selasa, 17 Mei 2011

LEILA


Entah sudah berapa kali Santiago Prayogo mendenguskan bilah nafas gelisah di kursi pesawat, yang menghantarkan dia dari Banjarmasin untuk pulang ke Semarang kampung halamannya. Perasaanya begitu getir, meski dari balik jendela pesawat terlihat gugusan awan berkejaran, mencoba mendinginkan hati Prayogo yang sedang diterjang bara api. Sesekali dia menengok kursi disampingnya,yang kini tidak lagi diduduki Leila dan anak mungil mereka Rakian, yang meluruhkan seluruh kekuatan sendi tulang Prayogo.

Mata Rakian bocah mungil itu, tawa candanya dan celoteh celotehnya yang memberikan kedamamian hatinya, kini hanya ada di langit menggelantung bersama awan hitam, yang dihembuskan oleh prahara di tengah bahtera rumah tangga Prayogo. Dia merasakan seluruh hidupnya terhempas prahara. yang ditiupkan oleh kedua orang tua Leila sendiri, hingga tibalah kursi pesawat yang diduduki, langit biru di balik jendela pesawat dan barangkali desah nafas yang masuk tenggorokannya ikut pula menyalahkan dan menyudutkan, mengapa dia harus kalah begitu saja. Padahal Leila masih membuka kedua tanganya, meski berada di tengah himpitan yang kuat dari sorot mata kebencian ortunya dan semua saudara saudara Leila yang cantik itu.

Kini dari kaca jendela, Prayogo hanya melihat permadani biru bertabur buih putih. Jelas sudah dia tahu kini, kalau Banjarmasin telah jauh dia tinggalkan. Berkali kali dia mengeluarkan HP dari kantong bajunya, karena berharap HP itu akan memekakan telinganya, lantaran panggilan dari Leila yang menyuruhnya dia kembali ke Banjarmasin demi Leila dan anak tunggal satu satunya. Meski Pengadilan Agama telah mensahkan perceaian antara mereka, namun Prayogo masih saja menyimpan nomor panggilan Leila. Wanita berkulit kuning langsat, anak Juragan Romli pedagang besar kayu, bersama dengan putri tunggalnya itulah Prayogo telah 12 tahun mengarungi hidup di Banjarmasin, sebagai guru swasta.


Masih kuat dalam ingatan Prayogo, beberapa tahun yang lalu, Si Kuning Langsat jelita hatinya, terus saja melipat wajahnya tiap dia pulang dari mengajar. Namun unjuk easa Leila, yang tambah kelihatan cantik itu, tak begitu digubrisnya, apalagi bila putra tuggalnya berada dalam pangkuanya. Prayogo tahu betul, bila bahtera rumah tangganya telah menemui lautan dangkal berpasir, yang dikelilingi karang terjal, Siap menghancurkan bahteranya yang tidak seberapa kokohnya.

“Bapak terus saja mengejar uang yang abang pinjam, mengapa hingga kini abang belum mulai membayarnya, abang kan bisa saja mengangsur hutang modal itu Bang ?” bibir merah yang berhasil merontokan hati Prayogo, seperti biasanya terus saja menghakimi Prayogo yang sering tersudut dalam kekalutan hidupnya.

“Kalau saja aku tahu bakal seperti ini. Tentu saja aku tidak mau berdagang kayu seperti Bapak, Leila !!!! “ entah perasaan apa yang mengganjal sanubari Prayogo kala itu, tidak pernah selama jarum waktu bergerak menghantarkan sang waktu, Prayogo menepis permintaan Leila sekasar itu. Bilah hati yang sedang disudutkan kekalutan itu, tidak mampu lagi menerima permintaan Leila. Seribu kunang kini bertebaran di sekitar kepalanya, tubuh Rakian didekapnya kuat kuat dan kini dia duduk di sofa penganti baru pemberian mertuanya yang bergelimang harta.

Prayogo mengusap punggung Rakian berkali kali, yang melengkingkan tangis manjanya, seakan akan tahu keadaan orang tuanya yang sedang didera kekalutan hidup.

“Bang Yoga !, bapak juga mengerti keadaan kita. Tapi seharusnya abang juga tahu kalau bapak minta abang lebih serius lagi dalam mengembangkan usaha kayu”

“Leila !, kamu kan tahu, aku sering rugi berdagang kayu. Aku jadi bertambah pusing ! ”

*Percuma saja aku bicara dengan abang, modal yang bapak pinjamkan kan tidak sedikit. Wajar saja bila bapak menanyakan usaha kayu kita, bang ? ” .

“Kamu kan bisa menjadi wakil aku di depan bapak tentang bisnis kayu kita. Katakan saja !, kalau aku bangkrut, modalnya akan aku kembalikan secepatnya, Leila ?”

“Bukan begitu bang !, jangan abang menempatkan masalah ini hanya dari aspek bisnis saja. Bang !, aku anak tunggal, jadi wajar bila bapak ingin aku bahagia, termasuk diri abang. Bapak hanya ingin tahu tentang usaha kita. Usaha yang diharapkan bisa berkembang demi masa depak kita bersama’

“Tidak usah kamu ajari, aku tahu masalah itu. Aku hanya minta waktu ?”

“Bang !, aku anak seorang pedagang. Dari kecil aku menyaksikan betapa sengsaranya bapak yang jatuh bangun mengembangkan usaha ini. Hingga kinipun bapak masih hati hati mengembangkan usaha ini. Inilah yang akan bapak ajarkan pada abang dan aku “

“ Leila !, aku bosan dengan ini semua, cobalah bicara yang lain saja. “

“Lantas, apa lagi yang akan aku bicarakan, Bang Yoga !!!! “

“Maksud kamu ? “

“Ya !, karena kita sudah tidak punya apa apa lagi, rumah yang kita tempati, sepda motor dan lainya adalah milik bapak. Masa depanpun kita sudah tidak punya lagi, jadi apa yang dapat kita bicarakan lagi “

Pandangan mata Prayoga seluruhnya dilemparkan kea rah tembok tembok rumah yang kini mulai kusam. Tembok tembok itu dulu berwarna putih bersih, kala mereka menempati sejak malam pertama. Prayoga masih terdiam, hanya anganya yang mengembara bberapa tahun silam, kala mereka bersua masih menjadi mahasiswa IKIP di Semarang. Leila kala itu, dikenal kembang kampus dari sebrang, dengan penampilan sederhana meski putra tunggal seorang pedagang kayu yang sukses.

Prayoga menautkan cintanya kepada si kuning langsat, lantaran awalnya Prayoga tidak menduga bahwa Leila anak tunggal seorang pedagang besar yang kaya raya, namun memiliki cita cita sederhana ingin menjadi seorang pendidik. Sungguh bersahaja cewek gedongan ini, tak melekat sedikitpun di tubuhnya yang atletis segala macam perhiasan yang gemelap, meski bagi Leila yang berkelas milyarder, masalah itu gampang saja.

“Bang Yoga !, aku serius !, abang sebaiknya bertemu bapak untuk mempertanggung jawabkan modal itu “

“Dengan apa aku bisa membayar, Leila ?”

“Bertemu dengan bapak dulu, bang !. Meski rugi dan habis modal abang, bapak kan memaklumi bila abang bersedia menelaskan alasan yang tepat. Siapa tahu bapak akan memberi solusi yang tepat?”

“Aku belum siap, Leila ?”. Santiago Prayogo tanpa berkata lagi sepatah katapun, membawa tubuhnya dengan bergegas ke luar rumah dengan membanting pintu dan pergi tak tentu arah entah kemana, kini tinggal

“Abang, abang…!!!!”
***

Suara batuk batuk dari Juragan Romli memenuhi seluruh ruang tamu rumah besar itu, sementara Leila sedang asyik menidurkan Rakian di Sofa tamu berwarna hijau lembut. Cuaca siang itu memang sangat panas, namun tidak sepanas perasaan Leila yang membarakan amarah dan kekecewaan kepada Santiago Prayoga, yang selalu menghindar dari pembicaraan serius tentang nasib meeka. Leilapun mengerti bahwa mereka berdua adalah sama sama berprofesi sebagai pendidik, sesuai yag dicita citakan meeka berdua. Meski untuk beberapa tahun ini Leila memilih untuk berhenti sementara, karena kesibukan membantu usaha mereka dan mengasuh Rakian.

“Leila ! Itulah kehidupan. Dahulu tentu saat kamu masih kecil, kamu sering menyaksikan bapak dan mamak bertengkar. Namun saat terjadi pertengkaran, salah satu harus bersikap dingin, yang dapat menyiram bara api yang hinggap di hati yang membara. Bila kedua belah pihak saling membara hatinya, maka darimana mereka akan mendapat kedamaian ?“

“Aku sangat prihatin dengan sikap Bang Yoga, aku harapkan Bang Yoga mau mempertanggung jawabkan modal yang diberikn bapak, mengapa rugi dan berapa sisa modal yang ada ?” Suara Leila terdengar terbata, di kedua pipinya kini mengalir titik titik air mata.

“Leila !, bagi bapak tidak menjadi masalah serius tentang kerugian Prayoga, karena modal itu memang milik kamu, dan bapak masih punya banyak harta milik kamu. Semua itu tidak dibawa mati bapak dan emakmu. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan !”

“Betul Pak, tapi aku tidak enak sama bapak dan emak, bagi Leila abang Yoga mau ketemu dan mempertanggungkawabkan sama bapak itu saja sudah senang, Pak ?”

“Memang bagi Prayoga yang dilahirkan bukan dari keluarga pedagang, susah untuk berhasil. Maka dulu bapak kan pernah memberi saran, untuk menjadi pedagang kayu yang sukses, Prayoga harus mulai dari bawah.Tetapi kau memaksakan diri “

“Aku memang tidak mengerti, Pak. Sejak dari kami berpacaran dahulu, kami berjanji bersama untuk belajar bersama menjadi saudagar sukses seperti bapak. Makanua dengan modal 250 juta, kami berdua ingin belajar pada bapak hingga sukses. Tapi kini Bang Yoga sepertinya tidak serius lagi”

“Memang kalau bapak perhatikan, Prayoga bukan tipe pedagang tangguh, sama sekali tidak berani mengambil resiko dan takut tantangan. Mungkin saja dia lebih suka menjadi pendidik, disitulah kepuasan moral Prayoga “.

“Lantas aku harus bagaimana, Pak ! “

“Cobalah dinginkan perasaan kalian berdua dulu, nanti kalau sudah tenang mintalah pertanggungan jawab dari Praypga, meski modal itu dari bapak, tapi modal itu adalah uang, yang harus jelas pengeluarannya. Aku menginginkan kalian berdua belajar professional, aku percaya semua pengeluaran Prayoga tidak untuk hal yang tak berguna. Dari kehati hatian bapak terhadap pengeluaran itulah, bapak bisa sukses seperti ini “

Leila tidak menjawab kata kata bapaknua, Leila hanya mampu menyimpanya dalam hati. Ayahnya yang bijak itupun kini pamit, hingga tinggalah penantian Leila di dawai sang waktu hingga kepulangan Prayoga, yang akhir akhir ini sering beberapa hari tidak pulang, entah kemana perginya sang suami yang tercinta. Namun tidak ada satupun makhluk di dunai ini yang mampu menghentikan sang waktu. Santiago Prayoga yang mengalami kerugian besar, tidak segera untuk minta advis istri apalagi bapak dan emaknya Leila, tapi malah semakin nekat perilakunya.

Leilapun merasakan kini hidup bagai di atas panggangan api, demikian juga Rakian yang merasa asing dengan kedatangan Prayogo bapaknya,yang sering pulang malam tanpa memberi sentuhan kasih sayang. Tiap malam tiba, tembok kokoh rumah dengan arsitek Eropa itu telah bergetar, genting beton yang kokoh kinipun seakan beterbangan tiap kedua insan itu saling bertengkar hingga larut malam. Demikian juga kala di sebuah malam yang tidak pernah Prayoga lupakan. Pertengkaran natara mereka berbuah pada perpisahan yang diminta Leila sendiri.

“ Sebaiknya kita tidak usah bertengkar setiap saat di rumah ini, bang ?”

“Mengapa kamu bersikap seperti ini sekarang ?”

“Barangkali saja abang, lebih memilih tidak bertemu aku lagi yang selalu mengganggu kehidupan abang ?”
“Maksudmu ?”

“Abang tidak usah setiap hari pulang malam, hanya untuk menghilangkan beban yang ada di pundak abang “

“Leila !,. aku tiap hari mengejar teman teman yang meminjam uangku, banyak mandor hutan yang pinjam uang sama aku, teman guru dan juragan lainnya. Aku ingin uangku kembali dan mempertanggungkan pada bapakmu “

“Abang !, mereka semua saling kenal baik dengan bapak. Mestinya bapak cerita semua tentang itu. Jelas abang tidak jujur dengan aku ?”

“Leila !, jangan sembarangan kamu bicara ?.Apa karena kamu dan bapakmu orang kaya terus bisa bicara senaknya denganku ?”

“Tolong bang jangan sebut nama bapak dalam hal ini. Dia sudah berlaku baik dengan kita semua “

“Lantas maumu apa, Leila ?”

“Sederhana saja bang. Abang silakan bebes kemana saja tanpa diganggu aku”

Prayoga ingat betul, mengapa di malam berbintang terdengar suara petir yang mampu menghanguskan hatinya. Leila menginginkan perpisahan denganua bukan karena salahnya atau dia, tetapi memang suratan takdir berkata demikian. Lamunan itu kemudian terpagut, kala announcer dalam pesawat itu memberitahu kepada semua passenger, bahwa mereka kini telah tiba di Semarang