Rabu, 27 Oktober 2010

Atmosfer Di Atas Negeriku

Biarkan Kubersajak Untuk Negeriku yang Berjelaga

ATMOSFER NEGERIKU

Bila lentera telah menyerpih dalam wajah menghitam
Menggantung di atmosfer menebar jelaga pengap
Ditelikung dengan bedak gincu, bertebar sembilu menusuk langit
Pantas sudah sebuah pentas hidup
Dari selaksa ilalang,
Berakar tak seberapa kokoh
Masih mendenguskan nafas di semilir
angin pagi…..tiada penat melepas galau
Kala harus menebas tabir kokoh

Ilalang yang tak kuasa menjaring angina
Harus menanggalkan tenggorokanya yang mongering
Tiada mereka pernah tahu warna pelangi
Tempat menanggalkan sebelah tanganya
Mungkin pula rona pelangi di Negeri Yunani
Atau tersangkut di padang Nigeria
Nyanyi pilupun tak mampu
Meronakan pelangi dengan nafas manusiawi

Atmosferpun kini terkapar …berdandan lusuh
Mengerang bagai singa penjaga kaki langit
Masih adakah sebilah jantung
Agar ilalang bercanda dengan kesejukan
Atmosfer menggurat langit

(Semarang, 22 Oktober 2010)



HYMNE DI PENGHUJUNG TAHUN

Empat penjuru langit telah melampiaskan pekik
Meradang tebing dan batas langit
Menembus cakrawala
Hingga bergantung pada jingga mentari
Yang telah lelah

Namun belum kentara juga
Meski halilintar berteriak seribu meriam
Tak mampu menggoyahkan sebuah kematian
Untuk peduli pada “sayatan luka” milik…..
Buih buih putih seperti kain kafan
Yang bertaut pada ombak Laut Pantai Selatan.
Kini mereka terhempas dalam hymne
Ibu pertiwi

(Semarang, 22 Oktober 2010)


HINGGA DI UJUNG LANGIT

Kala aku sampaikan esai tentang…..
Halaman rumah biru bertebar asa
Harusnya berpintu rapat dari musim..
Yang menebar debu anarkis
Menghalau lakon dengan kerah baju
Bercorak koruptor…berenda nanar

Kita tak mungkin lagi mengusung
Detik waktu hingga ujung langit
Bila halaman rumah bertebar duri
Bila semai keteduhan jiwa
Menyalak dengan taring tajam
Dan kuku yang menerkam leher
Negeri ini

Marilah kita sambung tali
Hingga ujung langit
Untuk bersandar anak cucu kita

(Semarang, 22 Oktober 2010)


TELAH HABIS WAKTU KITA

Ketika para dewa tidur di ketiak langit
Berbantal mega, berselimut kain biru
Berseloroh dengan hijau alam, dengan…
Duduk manja di Puncak Merapi
Membasuh badanya di Danau Toba
Maka terciptalah “archipelago”.

Namun beranda para dewa kini..
Bersimbah air mata dan darah
Beraroma mesiu dan ego,
Adakah waktu lagi, hingga….
Lebih eksotis lagi dandanan “archipelago”
Agar mampu menyunting cakrawala timur
Dan mengais keadilan di tumpukan…
Jerami kering, melekang tak beruntai senyum
Hingga bocah bocah lugu
Masih bisa mendengar lenguh sapi …
Di negeri hijau makmur,,
Bermandi angin katulistiwa.

(Semarang, 22 Oktober 2010)




KERETA API PRESIDEN

Telah berkemas semua anak bangsa
Agar bisa menderu bersama kereta api
Yang berangkat dari halama istana Negara
Sementara pagi masih berkabut,
Melewati stasiun Semanggi dan Ampera
Di atas roda roda besi
Ada seonggok nyanyi kumbang
Dengan bulu warna warni
Untuk siap meranggas padang yang
Diterkam kemarau panjang

Sang kereta apipun,
Terus melaju memecah angin muson
Di bantaran rel hedonisme dan lancung
Lantas sang kereta api sejenak
Melepas lelah, ditepian kubangan Lumpur
Yang panas dari perut bumi

Sang kereta api meradang pilu
Bila telah hilang nyanyian para dewa

(Semarang, 22 Oktober 2010)

Menembus Batas Langit

Langit langit rumah yang tersusun dari ilalang, kini dilumuri debu debu penantian, kala sebagian hidup yang diusung oleh jiwanya terasa berat dijinjing. Meski beribu laksa hari telah ditapaki dengan perasaan pasrah, karena kehidupan manusia dibalut oleh kodrat dari Sang Maha Pencipta. Itulah yang diyakini, sehingga membuat hidupnya sekokoh akar pohon Akasia yang melingkungi rumahnya, tak bergeming meski diterjang angin kembara yang bersorot mata nakal. Meski pula diguyur hujan seharian, yang mencengkeram perasaan sepi yang tetap bergayut. Alfian tetap saja berpegang pada kata hatinya di sudut jantungnya yang kian melemah, untuk segera mewarnai hidup bagaikan nyanyi burung kenari silver di pagi hari.

Bibir yang kering itu masih menyunggingkan senyumnya yang masam , kala dokter menyodori hasil pathology analytic tentang penyakitnya. Meski masih ada kekuatan hidupnya yang tersembunyi dari nadi dan nafasnya yang telah lelah, Alfian masih mencoba bertahan hidup demi dunia ini, demi sang istri yang kini menjadi milik orang lain. Lantaran istrinya, wanita berkuning langsat dan berambut ikal sebatas pinggul, adalah manusia juga yang berhak mendapatkan kehangatan dari laki laki yang perkasa, muda dan gesit serta jauh lebih baik dari apa yang dia miliki. Meski dengan batuk batuk kecilnya yang terus saja merongrong kerongkonganya, Alfian mencoba untuk mengatur deru hatinya, agar tidak sepanas “wedus gembel” gunung merapi, saat senja hari di beranda rumahnya.

Sepuluh tahun silam, istrinya dengan genitnya membuatkan air teh hangat untuk sekedar menepis kepenatan tubuhnya, setelah seharian dia bergelut dengan proyek developernya. Sebentar sebentar istrinya merajuk bersama dengan Norma putri tunggalnya yang selalu saja manja dipangkuannya. Norma dan Evelyn adalah dunianya, bak taman bunga berwarna warni. Entah senja yang keberapa dia larut dengan lamunan di beranda ini. Sebuah beranda yang hampa, apalagi di beranda rumah bambu di tepi kota. Inilah yang dia mampu tempati. Karena beranda istananya telah dijual, untuk mengganti hutang-hutangnya setelah kebangkrutan perusahaan jasa pengembang perumahan. Ditambah dengan komplikasi penyakitnya yang terus menyelimutinya.

Entah kemana Evelyn, setelah diterpa angin asmara yang bertaut di serambi hati Albert teman bisnisnya. Kabar terakhir yang dia peroleh Evelyn dan Albert berhasil mendirikan super market di Jakarta. Namun Norma putri tunggalnya kinipun entah kemana, sama sekali tidak pernah mengirim selembar suratpun. Apalagi kelihatan batang hidungnya. Kini Alfian hanya mampu bersembunyi di sorot matanya yang dijatuhkan dalam dalam ke bumi bila merasakan pedihnya seribu sembilu, yang meretakan hatinya.

***
Jadwal control sakitnya kini telah tiba, dokter Hendrik kini dengan cermat mendiagnosa perkembangan penyakit pasienya yang telah menjadi kurus kering tubuhnya.

“Maaf, Pak Alfian pekembangan penyakit bapak belum menunjukan adanya kemajuan”
“Terus, saya harus bagaimana, dok ?”
2
“Maaf, Pak. Cobalah banyak curhat dengan istri dan anak-anak bapak ! “.
“Hmmm. ….Kalau toh mereka semua ada disampingku, tentu saya bisa segera sembuh, dok !”
“Maksud, bapak ?”.

Sebuah derita yang sanggup menyayatkan hati dokter Hendrik telah terlontarkan begitu saja dari bibir pucat Alfian. Sunyi kini memenuhi ruang periksa itu, dokter Hendrikpun sekarang telah tahu bahwa Alfian lebih menderita batinya ketimbang tubuhnya. Tapi dokter itupun merasa kagum dengan semangat hidup laki laki paro baya di depanya itu.

“Bapak memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa, selain bapak barangkali sudah tak tertolong lagi”
“Terimakasih,dok!” !”
”Tapi bapak, harap maklum !
“Tentang apa, dok ?”.
“Pasien yang bahagia hatinya, menghadapi penyakit berat inipun harus memiliki kesabaran setinggi langit. Apalagi bapak yang ditinggal keluarga, sudah seharusnya bapak memiliki kesabaran menembus batas langit. Memang berat, pak ?”
“Barangkali saja kesabaran saya sudah menembus batas langit ke tujuh, dok ?”
“Oke, bagus kalau begitu !, dan sudah saatnya bapak harus bangun lagi dari keterpurukan. Bapak harus menekuni usaha bapak hingga berhasil lagi”.
“Dengan modal apa, dok ?”
“Dulu waktu bapak sukses, modal dari mana ?”.
“Hanya keberanian dan kemauan, dok ?”
“Wah, bagus kalau begitu. Mengapa sekarang bapak tidak berusaha bangkit lagi !”
“Untuk apa, dok ?. Istri dan anaku sudah tidak ada disampingku ?”
“Justru agar mereka kembali, bangkitlah pak. Buktikan kepada mereka bahwa bapak adalah laki laki yang kuat. Memang ada sebagian wanita yang memiliki karakter hanya imgin bersanding dengan laki laki yang tangguh segalanya “

***

Hari hari bergulir secepat desingan peluru, namun hari hari yang dimiliki Alfian digunakan untuk terus saja berburu meraih apa yang dahulu pernah dia dapatkan. Penyakit berat yang ada di tubuhnya tidak pernah dia rasakan. Setapak demi setapak pengharapan berhasil dia raih. Dikalangan ahli konstruksi dan perencanaan bangunan sbenarnya sudah lama mengakui kepiawaian laki laki mrlangkonis ini. Maka bagi Alfian untuk meraih apa yang dia harapkan, sebenarnya hanya masalah waktu.

Hari berganti bulan dan tahun. Alfian telah kembali mereguk kesuksesan semula. Bahkan pengalaman masa kejatuhan dia dahulu telah dijadikan pengalaman berharga. Sehingga Alfian kini tak ubahnya menjadi seorang konsultan tehnik konstruksi bangunan. Maka tidak mengherankan bila Hari Minggu ini dia menggelar workshop tentang inovasi konstruksi bangunan tingkat nasional.

Hari minggu ini, Bougenvile Square masih lengang, hanya dia dan beberapa pegawai gedung itu yang sudah datang. Alfian sempat mengendurkan semua ototnya di kursi VIP. Tiba tiba bahu kirinya terasa ada tangan yang mengusapnya. Tanpa berpikir panjang laki laki melo itu mengarahkan wajahnya ke arah empunya tangan itu.

“Norma, kaukah Norma anaku ?“ bibirnya kini hanya mampu bergetar, masihkah putri tunggalnya itu mengenalinya lagi.
“Pap, kau kah papi ?. Papi sekarang kurus sekali ?”
“Norma !, mengapa kamu ada di sini ?”
“Aku juga mau ngikut workshop ini, papi aku sekarang kuliah di tehnik. Papi juga ada disini, kenapa. ?”.
“Aku nara sember inovasi konstruksi”
“Oh, jadi itu papi ?. Aku kira bukan papi. Aku bahagia punya ortu seperti papi !”
“Syukurlah, kamu masih mengakui aku sebagai bapak, tapi kamu seperti mamamu mencampakan papimu begitu saja ?”
“Sudahlah, pap..ceritanya panjang. Papikan mau presentasikan, nanti habis pesentasi, papi saya ajak jalan jalan. Oh, iya… papi pengin kenal Marcell ?”
“Marcell, siapa itu, pacarmu ?”
“Ah, papi. Marcell itu cucumu ?”
“Cucuku ?. jadi kamu sudah married. Oh ya nanti setelah presentasi aku pengin menggendongnya, dan siapa suamimu ?”
“Suamiku, menantu papi, orang dari Bandung, Nanda Prasetya”
“Nanda Prasetya, ahli alarm bangunan itu ?”
“Iya, Papi kenal ?”
“Bukan kenal lagi, dia rekanan bironya papi ?”
“Dia, nggak pernah crita aku, Pap ?”
“Ya crita, tapi dia memanggil istrinya dengan kata ajeng. Mana aku tahu itu kamu ?”
“Ok Pap, waktu workshop telah on. Papi bersiaplah ?”
“Sayangnya. Mamamu nggak ngumpul kita lagi, Norma ?’
“Sudahlah Pap, papikan harus konsentrasi presentasi. Nanti setelah papi selesai. Segera saya kenalkan Marcell. Agar hati papi terhibur, papi nggak usah ingat mama lagi!”

***

Kedua matanya yang dibungkus kelopak yang mulai keriput itu telah dipenuhi air mata bahagia, bahkan kini dadanya berguncang. Dipeluknya Marcell dengan penuh kelembutan, sementara Normapun telah dihamburi perasaan yang tidak menentu, antara bahagia dan kesedihan tentang kehidupan yang tercerai-beraikan.

“Papi, bahagiakan hati papi. Kini hidup papi telah utuh kembali, Norma dan Marcell sudah cukupkan membahagiakan papi ?. Mama biarlah bahagia dengan Om Albert, kalau toh dia bersama papi lagi, papi tidak akan bahagia. Sekarangpun mami sudah meninggalkan Om Albert. Sudahlah pap, kalau papi pengin aku dan Marcell bahagia, lupakan mama saja ?”

Alfian hanya diam membisu, meskipun dalam hatinya kini telah benderang, lantaran pelita yang dulu padam kini telah menyala lagi. Direguknya the hangat yang ada diatas meja. Mereka kinipun meluncur menuju rumah Alfian yang baru, yang mulai saat ini menjadi rumah bahagia.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Lembayung Senja Di Nusantara

MASIH ADAKAH LAGU RINDU

Senja mengelabuhi seisi alam
Dengan gincu tipis berpupur temaram,
Kala sang bagaskara menyelipkan kelelahan
hati…..
Di pintu pagar manusia jauh menyekap hasrat
Tentang lagu hidup….tentang peluh
Dan hari esok yang kabur
Di jinjing burung bangau…
Yang mencari sekeping kesejukan,…

Masih adakah di tanah merdeka ini,
Berbatas kesayahduan buih putih di pantai
Berpagar Bukit Barisan dan berenda
Pulau Dewata….
Kita mampu menyenyam
Sekeranjang suka cita
Dengan nyanyian rindu kepada alam
Kepada pagi yang melecutkan….
Gairah untuk berbenah hidup ……(Semarang, 23 Oktober 2010).



TUBUH TUBUH YANG LETIH


Seberapa lama kau akan merobohkan tebing
Yang terjal, penahan angin kembara.
Mengendus dan melupatkan noda pada Jaya Wijaya
Hingga sampai puncak Semeru
Bila belum seberapa kokoh kaki yang kau pijakan
Pada merah membaranya suatu sejarah,

Lantas mengapa kau jinjing
Selaksa peluh yang bertepikan keletihan
Padahal telah sarat untaian hati sang bidadari
Berseloroh di langit bertatap biru,
Di tengah semilirnya Angin Bahorok

Bila kau terjangkan lagi
Seribu lembar prosa kegalauan
Dengan belati yang terhunus
Menajamkan bilik jantung yang melemah
Dari setiap yang merindu …….(Semarang, 23 Oktober 2010).

TAK KULIHAT LAGI PERMADANI EMAS


Gemercik air kali…kini menggelapar
Yang melintang di tengah sawah,
Telah mengusung sebuah ego
Hingga menghitam dan anyir …menyedu
gelisah semua palma dan belukar.

Mengapa kau abaikan cantiknya bulir padi
Yang tertunduk bagai putri kahyangan
Kala harus bermandi di jernih airmu
Mengapa pula tak kau beri lagi
Pelepas dahaga lantaran bercengkerama
Dengan Sang Bagaskara

Lantas harus pulakah meradang mata
Yang nanar…..
Bila telah habis episodamu
Mengeluskan gemercik airmu
Di tengah panggung sandiwara
Para punggawa dan hulubalang raja….(Semarang, 23 Oktober 2010)


EPISODA SEPENGGALAH MATAHARI


Bangkitlah semua yang mengendarai waktu
Meski semua yang diliang kubur
Atau hantu penasaran…di malam buta
Sebelum tanah ini beraroma…
Dan meletupkan isi bumi
Hingga jauh ke sudut langit…

Tajamkan sorot matamu
Agar belukar kini tak terinjak lagi
Sementara sudah habis semua nafasnya
Hingga sebilah nafas yang tersimpan
Yang diharapkan untuk mencumbu
Pagi yang datang dari Kahyangan…..(Semarang, 23 Oktober 2010)


KUTITIPKAN MALAM PADA REMBULAN

Bila telah malam,
Tak tampak lagi
Kembang sore hari
Serta tidur panjang
Embun pagi

Bila telah malam
Kita hanya mampu bermimpi
Merajut jalan tanah
Yang ada
Di depan gubug kita

Bila telah malam
Kumbang melipat sayapnya
Tiada kembang tersenyum ceria

Bila telah malam
Aku titipkan pada rembulan
Agar hasrat anak bangsa
Tetap terang menerjang…..(Semarang, 23 Oktober, 2010)

Jumat, 22 Oktober 2010

Awan Gelap Di Bumi Melayu

1.Hamparan Negeri-negeri yang Subur

Ketika tabuh genderang beriuh rendah……
Dari Negeri Kahyangan , tempat dewa semayam
Menyiratkan berita gembira pada seisi alam maya
Jauh dari balik Himalaya…..hingga ke tengah Sahara
Tentang hiasan “mutumanikam” yang kini memenuhi
“jagad berkungkung samudra dan berpantai nyiur”.
Mereka melambai….saat nelayan memetik hidup….

Bila pasat meliuk…….
Bulir padi menunduk dan menguning.. menggapai damai
Sapi perahan melenguh menguntai makna
Padang luas biarlah berbenah, lantaran disitulah sebuah
Rumpun hidup tentram, damai, adil dan sentosa
Dihamparan negeri-negeri bertabur wangi bunga
(Semarang, Agustus 2010)

2.Genderang “Ganyang” 1965
Tiada kita mengerti, padi menjadi legam menghitam
Bejejer di sawah yang menghembus nyinyir darah
Sementara Sang Pasatpun menghembus deru mesiu
Semua alam meradang…..
Ditoreh pelangi merah membara

Lantas mengapa rumpun hijau kini menyodorkan
Bilah daunan yang melenggangkan kebencian
Sementara nyanyian anak di padang purnama
Berganti dengan pekik ganyang

Kita tepiskan saja keranda pembawa ajal
Di balik cakrawala yang tak kunjung fajar
Hanya pekat saja bertabur hati manusia yang nanar

Jangan kita ikuti angin kembara
Yang merajut duka lara……
Mari berhias di semai rumpun hijau menawan
(Semarang, Agustus 2010)


3. Dua Putri Ayu (Sipadan dan Ligitan )
Kala dewa hendak melepas lelah..
Di pangkuan dua putri ayu mereka melepas dahaga
Kala angin badai menggulung ombak lautan
Di pangkauan merekalah…badai meluruh

Kala kita hendak mengusap wajahnya
Sang bayang hitam berona keangkuhan
Menghardik dan menepiskan tangan kita

Kemanakah warna-warni dandananmu
Ketika kaki langit milik “Sang Putra Palapa”
Hendak melepas sauh…..
(Semarang, Agustus 2010)

4. Pentas Saudara Kembar
Panggung pentas sudah dipenuhi asap pengap
Suara “kenong kimpul” makin terdengar parau
Tampilah barong “Batu Pahat” dengan gambar wajah legam
Kedua kaki dan tanganya bergiliran menampakan getar.

Tak segan munculah Sang Reog ,
bersulam “Ki Ageng Kutu Bre Wirabumi”…..
Barongpun meliuk menapaki “Dadap Merak”
Barong tersipu malu…….
Keduanya mensenyapkan panggung yang riuh……
(Semarang, Agustus 2010)

5. Merajut Angin Kesejukan
Tiadalah beliung ataupun kemarau panjang
Berhias padang ilalang dan belalang
Tiada pula pekik tangan mengepal…..
Sehingga tiada lagi purnama bergantung

Arah tenggara ketika kita menanam palawija
Arah barat sepoi ketika kita menebar padi
Ke dua arahlah kita bergandeng
Merajut masa depan di cakrawala esok
(Semarang, Agustus 2010)

Puisi Untuk Kepapaan Negeriku

GERIMIS DI TENGAH KEMARAU

Aku mengusung singkong, ubi jalar dan tanaman sayur,
Yang tumbuh di halaman rumah
Ke dalam bilik kamarku,
Agar terasa hangat hatiku, jantungku
Darahku, yang terbujur kaku,
Meski ini bukan gerimis terakhir
Yang mengguyur dinding bilik
Terbuat dari anyaman bambu
Membasahi ilalang di atap rumahku,

Namun sepiring nasi lusuh
Dengan sekerat tempe
Dan dibasahi sayur asem
Mampu mengganjal laparku,
Dengan senyum beribu warna
Istrikupun menghangatkan tubuhnya
Dengan sayur dan kue-kue pasar
Agar di tengah malam tak terjaga
dari teriakan dinding perutnya

Di meja yang tiada seberapa kokohnya
Berkaki bambu sebesar lenganku
Tertata makanan hangat
Agar anak-anaku tiada menghujamkan
Tangis bernada sinis
Karena kosong isi perutnya,
Meski perut yang mungil itu
Telah akrab dengan jaman

Aku menari nari di atas lantai tanah
Dengan radio butut yang berwarna kusam
Sekusam warna pagar rumahku
Yang mengumandangkan tembang jawa
Anaku sontak memburuku
Bagaikan kupu kupu di kebon belakang
Berhamburan memesariku
Istriku hanya tertawa hingga jelas
Lesung pipinya

Inilah sejuk…….
Bukan lantaran rumah berdinding semen
yang halus mengkilap
Putih cemerlang, bergurat jeruji penjara
Seperti pada loji para petinggi
Berdinding marmer nan licin
Sehingga berulang menjatuhkan musuhnya

Gerimis tak berniat surut
Aroma tanah yang dilekang kemarau
Masih saja memenuhi dinding bambu
Bayang hitam merengkuh bilik bambuku
Seloroh kini telah berada di atas bantal
Dengan dengkuran yang menepiskan
Getir yang mengitari pembuluh nadi

(Semarang, 26 September 2010).


ANAK “SINGKONG REBUS”

Jangan kau malu anaku,
Kala sepeda ini dikayuh, melewati jalan
yang kering dengan batu batu terjal
mencibirkan…makna
Jangan kau berangan “duduk” di kursi
Hulubalang raja
Yang berenda kertas berhias sutra
Lantaran kau adalah anak “singkong rebus”
Yang selalu bisa mengganjal perut
Bila matamu nanar
Merangkul kegetiran……

Anaku….
Kau bukan anak menteri di atas sana
Tapi tak harus kau melangkah surut
Kejarlah kedamaian
Dengan kedua tanganmu yang teduh
Meski sorot matamu redup
Tak mampu menerangi sudut langit

Jangan kau kejar rembulan…anaku….
Bila separonya telah dihimpit awan gelap
Kejarlah bintang di langit
Bila awan telah menyodorimu
Senyum indah
Berdoalah bila benakmu telah
Menyimpan apa yang ada di kepalamu…..

(Semarang, 26 September 2010).

BINTANG KEJORA

Apa telah kau besihkan beranda rumah
Meski hanya berlantai tanah liat
Agar tegar langkahmu, membidik bintang kejora
Warna warni,
Di bibir langit,
Apakah benar kau mampu menyuntingnya,
Bila melewati remang malam
Beterbangan kelelawar penghisap darah
Dari urat nadimu yang kecil….tak berdaya

Namun tiada juga kau bersalah…..
Bila kau memungutnya dan kau simpan
Dalam cucuran peluhmu..
Karena kau masih tegar
Melangkah pada kedua kakimu
Dan legam bahumu telah cukup kokoh

Biarlah emak dan bapakmu
Melepasmu di pagar luar rumah
Janganlah kau hirau, pada guratan wajah
Yang kami sisakan untukmu…..
Tengoklah kebon sayur bila
Telah gontai langkahmu

Semarang, 26 September 2010).


ABANG BECAK
Pada langit, bumi, lembah dan ngarai
Aku pekikan…..
Aku tiada pernah merasa lelah
Mengusung kehidupan
Di hari yang mengigit dan
Dan nafas yang menerkam

Jalan ini adalah miliku
Meski dipusari gedung bertingkat
Beratap jalan laying, berwajah gincu tebal
Aku akan terus menerjang
Meski debu jalan menghardiku
Demi manja istriku dan anaku
Semarang, 26 September 2010).

Merajut Cakrawala Negeriku

SEBUAH PERJUMPAAN

Saat datangnya sang rembulan
Menjenguk langit malam yang mengering
Ketika kaki langitpun menebarkan……
Semai mawar dan harum semua
yang di dekatnya…
Kapankah ?...untuk sebuah hati kecil

Semua yang telah menghitam kulit tubuhnya
Wajah tertunduk lantaran letih
Sementara gemerisik ilalang masih saja
Menjadi teman kala gersang meradang
Dipingit kabut yang menyesak dada
Kitapun perlu berjumpa

Ketika lidah membeku dalam kelu
Dunia hanya dalam kanvas semu
Tertatih di tengah sawah ladang
Yang diterjang kemarau tanpa mengenal iba
Petirpun tak pernah menjinjing hujan
Hingga pandang mata tak lebih dari bias

Angin yang tiada menyodorkan nama
Terus saja melambungkan tubuh
hingga menyentuh dinding suara di jauh sana
yang dikerumini sayap malaikat
dengan sayap yang tergelar rapi…untuk sebuah
bilik jantung……..
Lantas mengapa belum juga meminangku
Sang penganten di sudut senja yang sepi…
.
Semarang, 14 September 2010

KETIKA FAJAR

Tiap pagi yang kutemui
Adalah kekasih pujaan sang fajar
Saling memberi arti dengan untaian bunga
Bila sang kupu-kupu masih setia
hadir mengusung suka cita

Di tengah fajar merekah menjadi samudra
Belaian manis sepoi angin
Turut mengurai hadirnya bayang hitam
Yang kencang melilit tulang tulangku
Dan hampir tiap jarum jam menelan hidup
Tebing tebing terjalpun
Tak henti ingin melumatku
Akupun menghampiri sang fajar

Semarang, 14 September 2010

SAYAP SAYAP

Dengan kukunya yang runcing
Sayap sayap itu menelikung bumi
Layaknya sudah tak mampu lagi
bumi berputar mengusung kehidupan

Sayap sayap itupun dijaga
Sebagian manusia yang sedang menghardik
Buih laut yang bergelombang
Menelan pantai, kala manusia menunggu
lambaian daun nyiur
untuk mengatur nafas

Sayap sayap
Teruslah mencengkeram bumi
Agar tiada liar lagi
Sayap sayap
Teruslah menggambar langit
Agar tiada lagi badai
Di sejengkal tanahku
Di dalamnya terdapat seribu nafas
Inilah nusantaraku

Semarang, 14 September 2010

MASIH KUDENGAR SUARA ALAM

Kita memang manusia dungu
Ysng tak mampu mensirati bahasa
Stunami ketika bertandang di serambi rumah
Membawa kabar
Untuk bekal manusia esok hari

Lantas karena kita bungkam
Sinabungpun ikut larut dalam
percakapan alam
Namun sekali lagi
kita lebih senang bahasa
dalam oplosan yang meringkuk di botol
Hingga mampu menerbangkan
Semua tubuh dalam langit
Bersusun tujuh

Bahasa lainpun datang
Dari dalam bumi yang melambung tinggi
Hingga bertandang ke rumah
semua yang masih menyelip asa

Namun manusia menyodorkan
Bahasa yang aneh untuk alam
Lebih suka memenuhi kantong bajunya
Yang sarat denga catatan harian si miskin
Entah nafas ini milik siapa
Bukan para petinggi negeri hujan setahun

Suara alam…
Entah datang kapan lagi
Cakrawalapun menunggu
agar engkau tak lagi garang menerjang

Semarang. 14 September 2010


TAMAN HATIKU

Istriku yang elok
Bersama anaku…di pagi
Memenuhi seloroh kala hati berbunga
Berhias taman hati…
Berkubang archipelago dan angin muson
Sebuah taman hati disusun bersama

Berdinding bukit barisan
Kala pagi membujurkan dingin
Nyalakan kawah Jaya Wijaya agar
Hangat memenuhi jiwa kita

Namun batas taman hatiku
Telah dirusak kucing hitam
Yang haus sekerat daging
Yang dibumbui sedapnya rempah rempah
Yang tumbuh di taman hati

Akupun menjadi jalang
Melempar kucing hitam dengan
Kepalan tangan
Agar tiada lagi kepala yang mengeras
Karena diganjal kesombongan
Dari balik bangunan loji kompeni

Semarang, 14 September 2010

NEGERI PARA DEWA

Ketika sang dewa di kahyangan
Tersenyum berseri, hingga nampaklah
gigi mereka tergambar biji mentimun
lahirlah tanah berpantai nyiur melambai
dengan kubangan kerbau
di tengah sawah yang menguning

Semarang, 14 September 2010

SAJAK TANAH AIRKU

Merah Padam Ronamu

Ketika kita beranjak dari peraduan…
Bermandi semilir angin dari tengara
Yang mengusung buih laut
Menuju pantai…
Tanpa berkawan lembayung jingga

Ada seuntai “janji”….
Yang meringkuk di kepalan tangan kita
Untuk menandu sang ibu pertiwi
Agar tiada lagi kerikil tajam
Yang tiada pernah mengerti akan iba
Dari sebuah perjalanan

Akupun hanya menguatkan pegangan
Agar tangan ibu yang keriput memucat
Bernafas lega…….
Mampu bermandi air bunga
Dalam gubug sederhana
Beranyam bamboo
Berhalaman bunga melati, kenanga dan mawar

Jangan kau biarkan ibu
Merah rona wajahmu…
Terbawa angin debu mengusung biadab
Biarkan ibu bersemayan dalam cakrawala archipelago

Semarang, 12 September 2010

Episoda Negri Sebrang

Meski nasi dan jagung..
Beralasan piring tanah..
Dimasak dari tungku tanah liat…
Berteman sepotong ubi…
Tertata rapi di atas daun pisang

Kita terlahir dari lengan yang legam
Bahu yang melepuh karena terik matahari…
Mengatur beberapa nafas dari bilik bambu
Tapi kita rimbuni dengan pohon buah
Yang menjadi lalu lalang kenari, perkutut dan kutilang

Kita batasi gubug kita yang kokoh
Meski dari batang kayu nangka
Rumputpun menebar hijau
Yang tertata bagi permadani dewa.

Jangan kita sodorkan rembulan
Yang telah hinggap di atap rumah kita
Meski lantang dan angkuh mengusik
Dari negeri sebrang..yang nampak
berceloteh dari balik gedong loji
berkelambu sutra
belantai marmer pujaan para raja

Kita adalah kita…
Meski negri sebrang meradangkan
singa lapar, bersuara sampai ke ujung fatamorgana
tidak pernah di lingkaran langit nusantara
Kita surut untuk memangku nestapa
Kita mampu menerjang bak prajurit ‘segelar sepapan”
Dari Majapahit yang merengkuh negeri para dewa

Semarang, 12 September 2010

Bara Api dari Rumpun Bambu

Di tepian telaga
Tempat mandi bidadari
Sang jalak menawarkan bulu hitamnya
Pada kutilang yang bersayap putih
Kenaripun manyimpan rapat rapat bulu kuningnya

Sang perkutut diam membisu..
Meski dia ingin meminjam bulu merah
dari Cendrawasih

Telagapun menjadi bermandi kuning keemasan
Dari semburat sinar mentari
Yang mengalahkan warna bulu mereka semua
Namun tiada mereka mau membasuh
bulu mereka dengan air telaga…
Mereka malah menajamkan paruh dan cakar
untuk memungut sebuah bara…...

Tiada pernah mereka tahu.
Bahwa negeri gerimis ini …
Adalah negeri tempat mandi bidadari
Ketika Manikmaya membasuh mahkotanya
Untuk pertemuan agung esok hari…
Mereka tidak pernah tahu…..
di bawah lambaian daun nyiur di tepi pantai..
adalah tempat dewa melepas lelah
“Jayalah Negeriku”

Semarang, 12 September 2010

Rabu, 06 Oktober 2010

EFFINTA

Sebaiknya bila engkau punguti catatan harian, yang terselip di sudut langit biru. Tentunya akan kau temukan sesuatu yang di tengahnya aku gambari lukisan tentang keindahan. Sebagai ungkapan tentang aku yang akan merindumu.

Sudahkah jiwa ini yang telah engkau telanjangi dengan rayuan merdumu. Telah pula engkau buatkan penyejuk untuk melepas lelahku. Oh…alangkah jauh perjalanan ini. Sudahlah kembang kertas ini engkau sulami dengan warna-warni hasrat. Maukah engkau tunjukan mana yang bisa engkau nyanyikan.

Malam aku tempuh dengan keluhan nafas yang berat, karena terpagut dengan langkah yang tertinggal. Bila engkau mencoba, mungkin kau akan tergambar pada ufuk esok pagi. Oh. . . cakrawalamu . sudahkah berhias sinar mentari pagi. Sudahlah !, untuk sementara biar aku genggam haru birumu, menyertai perahu hasratku yang kandas di keangkuhanmu.

Kupadukan antara hasrat, kagum dan beribu asa. Menjadi secawan hiasan hidup yang dinamakan cinta. Kulukis di tiap dinding hatiku, yang belum pernah kau gantungkan denting kemesraan
Atau mungkin diriku yang belum mengerti yang mana tempatmu singgah, dimana engkau sembunyikan pesona hidup ini, atau mungkin lebih jelas bila kusodorkan cinta. Agar hatimu mau meneguk kejernihan hatiku.
“Engkaulah bunga sejuta harapku, adakah sisa hatimu untuku ? “ demikian aku coba bertanya pada hati ini.

“Lantas dimana kau simpan hatimu, yang belum terisi sejuta keindahan “ jawab sebuah hati yang entah tersembunyi di mana.

“Bila engkau mau merinduku, lalu akan kamu apakan jiwa yang menggelepar ini ?, sedangkan bayang wajahnya terus saja terbujur kaku di mimpiku” terus saja suara dinding hatiku bergeliat.

“Mampukah engkau menyusun puisi hidup, tentang irama keindahan cinta. Jangan kamu kagumi wajahku, jangan kau kagumi dengan betis atau bibir merah delimamu. Kagumilah aku yang terus telanjang menantikan arti hidup ini “ jawab dinding waktu yang sekarang entah berdiri di mana.

Aku tersentak kaget dari tidurku. Terdapat selembar gambaran wajahmu yang tiba-tiba muncul, tanpa aku duga darimana arah kedatanganmu. Lantas aku sertakan engkau, untuk meniti perjalanan pagi. Kala itu beberapa saat yang silam akupun belum tahu, bahwa telah terselip dalam hatiku tentang keindahanmu. Belum ada di bagian manapun di hati ini, yang ingin tahu lebih jauh tentang dirimu.
Namun berulang kali dentang jam dinding yang berjalan secepat kilat, menyambar keinginanku yang menggumpal dan terus menggumpal. Sehingga mendesak jantung hatiku dan menyesakan dada, mengapa belum ada perahu hasrat yang berlabuh di pantai hatimu
Tentunya bila aku sodorkan sebuah cinta untukmu, Engkaupun akan mengepakan sayapmu, menuju cakrawala, yang entah akan menggelantung di langit sebelah mana. Namun kembali lagi jarum waktupun terus mengejarku, agar bulan dengan seribu panorama, yang terpancar dari senyumu, tiba-tiba saja tunduk dipangkuanku.

Bulan kini masih tersembunyi di balik awan, dan akupun telah berada tepat di depanmu. Entahlah aku sendiri telah menguatkan hati yang tadinya hanya mampu bernyanyi sepi. Namun kini hatipun telah aku siapkan, hingga mampu menjadi telaga tempat aku berpuas diri.

Kusapa dan engkaupun tetap menyisakan senyumu, laksana sebuah permintaan agar bulan setidaknya mau mengintip di langit malam. Untuk menyaksikan aku yang hendak menuangkan hasrat kepada kekasih hati, yang kini berada di depanku.\
Kuberikan juga sepenggal asa agar kita berdua menghiasi biduk dengan ornament yang sederhana. Mengarungi lautan biru, dengan ombak yang akan menguatkan kedua sisi biduk kita. Tentunya pula akan kau gapai, bila memang harus kutemui bulan tepat di atas tempat kita mendirikan rumah mungil tapi bersih. Dan pada giliranya rona sinar bulan akan menjadi senyumu.

Hari demi hari, tentunya dandanan hidup akan lebih semarak. Bila engkau tiada pernah bosan untuk menyirami kembang – kembang taman yang ada di pekarangan rumah mungil kita. Bila telah ada pula tautan hati diantara kita untuk sekedar merobahkan tubuh kita yang penat.

“Jangan kau biarkan halaman depan rumahmu dipenuhi debu sore hai, yang dibawaoleh angin kembara yang nakal hai. . .kau wanita tambatan hati “ demikian ungkap kembang mawar di sudut halaman.

Sedangkan kembang melati juga tak kalah lantangnya untuk meneriaki wanita yang ada di dalam rumah mungil itu, “ Jangan kau pernah ragukan secawan cinta suci dari pria yang akan membawamu mengepakan sayapmu menuju biru langit.
Sekali-sekali kembang kenanga juga ingin nimbrung bareng dengan kebahagian kembang-kembang sore yang telah basah disiram air sejuk, yang dijinjing wanita yang berkulit kuning dan bersih,

“ Jangan kau harap akan mampu menggenapi hidup ini, bila dalam hatimu masih ada sisa ketidak- tulusan. Mungkin pula engkau bisa menipu dirimu sendiri, namun sorot mata adalah sesuatu yang tidak bisa diajak berbohong. Maka benahi rumah mungilmu, agar sepanjang malam engkau mampu berdandan ayu “.

“Efinta !, inilah rumah mungilmu, apabila engkau selalu menatanya dengan optimis, maka tentunya dinding dan atapnya tidak akan runtuh walau digoyang gempa sekuat apapun “.

Demikian sempat aku bisikan pesanku dekat ketelinganya, saat bulan sudah mulai hadir di atap rumah kita, agar cukup tangguh maghligai bahtera ini, menghadapi ketidak pastian dunia ini. Bukankah telah cukup banyak rumah mungil yang runtuh diterpa angin prahara keangkara-murkaan manusia yang tak tahu diri ini. Bukankah pula banyak rumah mungil, yang justru diisi dengan ornamen durjana, dari manusia yang menajamkan nafsunya setajam pedang.
“Efinta bersihkanlah selalu kaca jendela rumah mungil kita, agar kita bisa memandangi dengan transparan, cakrawala di depan halaman. Sehingga kita tahu persis kemana langkah kaki akan kita ayunkan “. Bulanpun sudah mulai mendekat di raut wajahmu.

“Benarkah engkau pria yang selalu dekat denganku, benarkah itu “ ?. Kala itu bulanpun mulai merajuk, untuk ditembangi dengan nyanyian bunga-bunga wangi. Untuk mengharumi ruang demi ruang di rumah mungil ini.

“Efinta, aku hanya memiliki bagian hati, yang sebagian untuk dengus nafasmu, dan separonya lagi hanya untuk rembulan yang kini sudah menumpahkan keindahaan di kerling senyumu

”Lantas semua ornament rumahpun telah menjadi saksi bisu, ketika dua hati mengucapkan selamat malam pada rumah mungul ini, pada semua kembang pekarangan yang menata rapi. Dua hatipun bergelora di dalam rumah mungil ini, untuk menghabiskan malam panjang bersama rembulan, yang kini telah menjadi miliku,

Senin, 04 Oktober 2010

BIDADARI JALANG

KEMBALIKAN SAWAH Dan LADANG HIDUPKU

Bila aku harus terkungkung……
Oleh langit hitam, yang lama mengirimkan senyum kegetiran tanpa adanya
Daun daun hijau keteduhan,
Agar ranum bumi enggan di tawan jaman,
Menggilas tiap sudutnya, hingga bumipun meronta,
Kini bumipun terperosok dalam kubangan yang menggeliatkan
senyumnya di wajah pagi
Lantas pengembala kerbau di suatu sudut
Menarik nafas panjang, …….

Nyanyian alam ini…..
Telah menghardik semua mata yang meredup
Yang lama menjaring hari dalam tawanan musim
Dalam cengkeraman udara yang anyir….
Mereka begitu pandainya….
Menyimpan senyumnya, pada sekotak kisah”bidadari jalang”
Yang menurunkan nafas busuk
Hingga menusuk kulit mereka yang di tengah sawah

Kita terpelanting dalam pusaran
Tiada akhir, tentang gugurnya sayap belalang
Meronanya daun palma dan tak mampu lagi menjadi gambaran
Riuh rendahnya manusia melepas rindu
Hingga bilah hati saling membaca
Dalam buku harian alam……..
Yang memberi ornamen pada dinding kabut
Yang kini mampu membuat hidung, tempat nafas bersulang
Tak lebihnya hanya melekangkan paru kita

Aku tak mau lagi berkungkung langit
Bergambar ego manusia mendenguskan keangkuhan
Menebar jala-jala tajam ketiap sendi tulang, hingga lunglai
hidup semua yang bertumpuk pada tulangnya sendiri
hingga tersudutkan di pinggir bumi
Menantikan pergantian angina pasat
Yang membawa semi padi.
Menjinjing keranjang palawija
Bersembunyi di rimbun kebun sayur

Tak ada lagi tanaman mesiu
Berbunga pecahan kaca dan paku
Berpekik hingga bergaung ke seantero kaki langit
Manusia tak lebih dari benih ilalang
Yang tertiup angin menyebrangi wajah senja
Kita adalah yang mencangkul lading
Membalik tanah sawah, mengaliri dengan gemercik
Air kali di pagi hari
Yang melintang di tengah sawah dan kebon hidup kita
Lantas tidak kau terbangkan saja
Sayap sayapmu yang hitam berkuku tajam

Tak kuhiraukan meski engkau telah merobek langit
Meski engkau telah menawan bulan purnama
Meski pagar tumbuhan di pematangku
Telah kau robohkan, lantaran kegalauan dalam hatimu
Aku tetap melahap ubi jalar yang tumbuh di halamanku
Atau singkong rebus berselimut gula jawa
Atau pula pagi ini adalah miliku sendiri
Terbanglah engkau ke jaman milikmu sendiri
Bukan di sawah lading dan hidupku
Engkau merajut nafasmu…..

Semarang, 5 Oktober 2010

TEDUHKAN HATIMU

Pernahkah kau berpikir tentang selimut pagi
Hingga anak anakmu berceria
Berlarian di halaman rumahmu
Mengejar kupu-kupu jaman
Yang cantik, elok dan bersayap lincah

Dari pagi hingga senja berikutnya
Adalah kehidupan dengan prosa
Beruntai kata kata pujangga
Yang harus kau beri makna
Untuk penghibur jiwamu yang tenggelam
Dalam kawah gunung Merapi…

Nampaknya pagimu hanya
Dirajut oleh sejuta sembilu
Dari pohon bambu yang tak pernah kau tanam sendiri
Maka engkaupun harus menuai kalap

Srmarang, 5 Oktober 2010

MENJARING ANGIN

Bila engkau mengepalkan dan mengayuhkan kedua kakimu
Akan kau temui telaga bertepi nyanyi burung kenari
Berpita alam gemercik air kali menawarkan sendu dan indah
Awan di pagi dan senja hari.
Lantas mengapa kau menolehkan batas pandang pada detak nadi yang melemparkan makian. Padahal guratan gubug bamboo dengan halaman anyelir
Mampu kau singgai sekedar menyejukan kata hatimu

Kembalilah pada yang meminangmu
Seorang ibu dengan ayunan dan tembang”lagu jawa”
Kala kau kecil di pangkuanya

Mengapa pula kau simpan sembilu pada ruang jantungmu
Sehingga nafasmu selalu menyodorkan kata sumbang, dan amukan bedil
Lebih kau senangi, dengan merangkai pekik ketakutan dari……
Semua manusia.
Bila di sawah ladangmu telah kau tanami perdu dan beluntas
Lalu sayur , buah delima ranum memerah
Membasahi halaman hatimu yang telah meradangkan bara…..
Engkaupun mampu melepas lelah dalam buaian alam
Betapa syahdunya menjaring angin di halaman gubug bambumu
Ketimbang bergelut dengan aspal jalanan

Rabu, 29 September 2010

Warna Warni Hidup Dalam Puisi

BIRAMA HIDUP MANUSIA

Jalan panjang berdebu, beterbangan tak tentu arah, dihempas angin menelikung
bagai “sesaji para dewa” ….ketika marah dan menghardik.
Beberapa diantara manusia yang ada di jalan itu,
Memburu diriku seakan akan bernafsu mengulitiku,
Tanpa seloroh aku sodorkan, tanpa hendak menerjang
Mereka memburu nafas.
Mereka tiada mengrti di mana harus menyimpan hati.
Mereka tak mau membumikan sorot mata.
Hendak menghanguskan tulang igaku.

Janganlah kau timbang hidup ini.
Dengan apa apa yang tak mampu kau lihat, esok pagi……
adalah dalam tabir berkelambu benang sutra.
Jangan pula kau lepas ikatan kalau kau menghitung hari, merajut….
angin dalam keranjang bambu.
Atau meranggaskan Akasia
Tempat anak anakmu berteduh,
dari binalnya sang waktu

Larilah sekencang angin.
Kala menjemput ilalang yang hanya diam membisu.
Pada istana yang kau susun sendiri.
Di balik tempat sejuta sayap putih bergetar.
Kau tetap menghardik hatimu sendiri.
Kau tetap menyempitkan rongga dadamu.
Aku hanya memincingkan.
Sebelah mataku.
Lalu kau membara.
Sepi…….
Aku sendiri………(25 September 2010).

PERHELATAN


Belum mampu juga, awan awan langit biru meniru
manusia…dalam menjinjing warna semu.
Warna itu beruntai peluh yang menelanjangi…..
Mentari di siang hari..atau berselimut
angin …ketika malam telah dingin

Beribu genggaman mengabarkan pada ornament
di tepi jalan, tempat lalu lalang dengus nafas
Menggagahi suara alam datang dari celoteh,
beribu burung di tepi telaga tempat berlayar
perahu perahu kertas dan sauh yang tak lagi mampu menambatkan
hasrat…….
Janganlah kamu berteriak nyaring
Hingga membangunkan bidadari di Suralaya
Dan menggusarkan wajah Bethari Durga.

Perhelatan kini memenuhi setiap beranda rumah
Namun aku telah kelu lidahku
Hanya semu batas memandang, lebih baik…
aku menggapai ke tempat embung
di kaki bukit………
tempat, aku dan anak istriku membersihkan badan.
Ketika hari telah senja

Perhelatan ini menusuk tengah hari, laksana pesta pengantin
Jalan tertutup debu dan pekik serta hiruk pikuk.
Beribu kertas merah kusam memenuhi ruang nafas
Nenek nenek tua bergincu tebal
Ikut tertawa terkekeh, meronakan tengah hari

Semua meradangkan gempita
Semua menyanyikan senandung hati yang nantinya
akan terlemparkan pada fatamorgana penghias “rayuan bunga kertas”
agar si anak kecil bobo di sore hari
Jangan kau saksikan angin malam berujung tajam
Merendakan deru dan debu, mengibaskan semua santun
Yang disimpan di sudut rumah masing masing penghuni
Nusantara.

Gambarlah langit yang sesuai dengan ketiak tubuhmu
Lantaran tiada lagi kabut yang menghimpit
Setelah kembang tulip berkelopak jingga
Dan bertangkai putih salju
Telah terkubur hidup hidup di gerigi jaman
Namun jangan kau hardik
Anak desa di punggung kerbaunya
Yang masih setia dengan sawah ladangnya
Ketika rasa rindu pada padi menguning
Tidak berias di tengah perhelatan ini

Hingga kau sendiri yang mengagungkan perhelatan ini
Hanya duduk di sudut rumahmu sendiri
Akupun hanya mengerling
Lantas pergi memburu sunyi
(25 September 2010)

WARSI

Dia hanya mengenal bulan kelahiranya
hanya dengan Bulan Jawa
dia hanya mampu menumbuk padi,
memasak nasi, menyedu teh untuk suaminya
memandikan anaknya agar sedini ke sekolah
di tengah kabut pagi yang
merenggutnya.

Buah bibir manis berisi kembang setaman
Dia dapatkan dari penyihir pinggiran jalan
Untuk hidup dengan gaun nyonya belanda
Di rumah loji berlantai marmer
Bergenteng semen
Dan sebuah andong bersaiskan pemuda perlente
Tampan dan gagah

Lantas dia menerpakan debu debu jalan
Agar jalan dipenuhi dengan lunglainya tubuh manusia
Dari sebrang jalan
Yang dia sendiri tak pernah menginjaknya
warsipun meronakan wajahnya bagai kilat di tengah hujan
memusari puting beliung, hendak
mendandani moleknya Sang Ibu Pertiwi

Warsi hanyalah warsi
Tiada lebih anak desa
Yang hanya mahir bersawah
Warsipun hanya warsi
Yang tergolek sepi..di sudut jaman
(25 September2010)

MALAM PEKAT
Mereka berduyun menembus pekat malam
Mencari ilalang yang bertepi daun yang tajam
Yang sering melukai kaki si bocah
Kala bermain mencari belalang,
di padang yang gersang.

Mereka membawa lampu minyak
Yang temaram menemani sinar sang rembulan
Langkah kakipun masih belum laju
Di jalan jalan penuh kerikil dan berliku

Di malam pekat sebagian mengiba
Di malam pekat sebagian menerjang
Dengan bara api kebencian
(25 September 2010)

Selasa, 28 September 2010

Bulan Di Atap Rumah Bambu

Beberapa batang rokok telah habis dihisapnya, entah mengapa batang rokok yang dihisapnya sekarang masih saja kuat melekat di jarinya. Tubuhnya masih saja rebah di kursi kayu jati yang renta membujur di ruang tamu yang kumuh. Meski sinar mentari telah menghiasi wajah pagi yang kuning menyala, lantaran tersapu kemarau yang menerjang kotanya. Namun dia masih belum beranjak untuk memunguti kehidupanya yang tercecer di roda jaman. Padahal semburat sinar kuning mentari beberapa diantaranya telah menerobos celah dinding bambu yang berlubang, Sementara itu truk pengangkut pasir terus lalu lalang di depan rumahnya

Asap rokoknya masih saja mengepul menutupi wajahnya yang terlihat galau., segalau dunia yang masih saja liar menerima kehidupanya. Entah kehidupan macam apa yang pernah dia jalani, namun tetap saja hanya peluh dan debu yang menebari di sekujur tubuhnya. Gambaran hidup yang dia rengkuh, tak ubahnya seperti gambaran asap rokok, yang tidak pernah memilih gambaran yang pasti. Selalu saja berubah dihempas angin kemarau Gunung Merapi.

Sebentar sebentar terdengar lengkingan batuk panjang istrinya yang telah mongering tubuhnya, lantaran penyakit menahun yang tak kunjung sembuh. Penghasilan dia yang pas-pasan hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah ke tiga anaknya. Sumitropun hanya mendenguskan nafas panjang, saat dia mengadukan kepada sanubarinya sendiri tentang kehidupannya. Cuaca yang terus menerus dibarengi hujan meski di tengah kemarau, membuatnya tidak berdaya untuk menambang pasir di Kali Krasak. Musim yang tiada menyodorkan kepastian, menyodorkan pula kehidupanya yang kian terhimpit.

“Tiada satupun manusia yang mampu mengatur cuaca, Mas !” nyaring suara Hartini menyeruak memecahkan lamunan Sumitro yang masih menggantung tentang rencananya ke Malaysia menmgadu nasib.

“Makanya, Tin, aku sudah bosan menjadi penambang pasir yang tiada pernah memberi harapan. Aku tetap ingin kita mengambil resiko, daripada seumur hidup hanya merajut hidup yang nestapa”.Sumitro kini menjadi lebih bergairah untuk mencoba menantang sebuah kehidupan yang menurut dia adalah suatu misteri yang tiada pernah mampu dipecahkan.

“Mas, kita mengarungi kehidupan ini hanya dengan keberanian, tanpa modal apapun, itu juga sudah penuh resiko. Lantas resiko apa lagi yang kamu inginkan”

“Mestinya kita harus lebih berani lagi mengambil resiko, sudah kepalang tanggung kita mengarungi hidup yang penuh gelpmbang besar. Sementara itu kitapun tidak pernah merasa aman untuk berlabuh di kehidupan yang penuh bahagia. Kamu tidak menginginkan itu ?”.

Hartini hanya menghiaskan wajahnya dengan senyuman tipisnya, sebuah senyuman yang menjadi awal sebuah hati yang kekar milik Sumitro berhasil roboh dan mendekam dalam pelukan wanita yang santun ini. Hartini kini lebih mendekatkan duduknya di samping suamnya sambil mengaduksedikit gula dalam kopi pahit kesukaan suaminya.

“Wanita mana yang tidak ingin bahagia bersanding denga harta yang cukup, kehidupan yang tentram. Tapi coba Mas renungkan, kehidupan yang kita miliki sudah cukup bila kita tahu persis diri kita masing-masing, Kita sudah dikarunia tiga putra dan mereka sehat dan pandai. Kita sudah memiliki rumah meski hanya gubug beratap seng berdiding bambu .Mas, apa yang kurang dari kita ?”.

“Aku heran, Tin ?”
“Heran tentang, apa Mas ?”.
“Biasanya yang berkata seperti itu, adalah suami ketika istrinya merajuk menuntut dunia untuk menghiasi hidupnya., Tapi malah kamu yang bertutur seperti itu. Bagi aku kehidupan seperti ini belum puas, aku ingin kelihatan kamu lebih cantik dengan dandanan yang lebih baik, lantas aku pengin juga menyekolahkan anaku ke kota, agar mereka mengenyam universitas, jangan seperti bapaknya yang hanya sampai kelas 2 SMP”
“Bukan hanya kamu, Mas !, akupun ingin seperti itu ?”
“Lantas mengapa kamu tidak setuju aku ke Malaysia ?”
“ Kalau itu membuat kita lebih bahagia, kenapa tidak Mas ?”
“ Kalau gitu, kamu setuju?”
“Ya, setuju, Mas ?”
“Terus akan kamu lepas kapan tanah itu, mumpung Pak Ranto berani membelinya !”
“Itulah yang aku tidak setuju, Mas. Tanah itu satu satunya peninggalan orang tuaku. Lagian Mas Hartono juga masih punya hak , bukan aku saja”
“Ah..itu gampang, Tin. Kalau aku sudah di Malaysia, kan bisa aku ganti Mas Har dengan gajiku kerja di sana”
“Maaf, Mas, aku tidak setuju,memang Mas Hartono tidak pernah menuntut hak itu. Tapi dia tidak setuju kalau tanah itu dijual.
“Tertus apa artinya tanah itu untuk kehidupan kita, Tin ?”
“Mas Har minta supaya tanah itu dikelola untuk usaha atau untuk ditanami apa saja, dia tidak akan menuntut hak.Tapi dia tidak akan melepas tanah itu untuk dijual”
“Kamu memang istriku yang tidak mengerti cita-cita seorang suami.”
“Mas Sumitro,apa ke Malaysia menjanjikan segalanya ?. Tetap saja manusia tidak lepas dari KodratNYA. Aku takut Mas, keberangkatan Mas ke Malaysia justru nambah kesengsaraan kita, Apalagi dengan menjual tanah kita satu-satunya”
“Terus aku harus bagaimana, apa salah bila aku berhasil membahagiaan keluargaku, termasuk kamu, Hartini !. Aku berani bersumpah, aku tidak akan jatuh ke pelukan wanita lain, kamu sudah hapal, persis wataku..kan ?”
“Bukan masalah itu,..Mas ?”
“Masalah apalagi?”
“Kita manfaatkan saja tanah itu. Selama ini kita kan belum pernah bicara masalah ini”
“Aduuuuh, setengah mati kan Tin.Mau ditanami apa ?.Musim seperti ini tidak bakalan bisa diharapkan”
“Mas, aku diberitahu Mas Koco, temenmu di Kali Krasak”
“Ada apa ?
“Dia sanggup menyediakan bibit ikan lele, dia punya relasi di Magelang. Tentu kita bisa beli, orang harganya murah. Kebetulan tanah kita bisa diairi sepanjang tahun, cocok untuk beternak lele”
“Terus mau di juual kemana lele-lele itu”
“Hualah..Mas. Setiap rumah makan pasti menyediakan menu lele kan Mas ?”
“Ah, itu terlalu beresiko, aku nggak punya modal”
‘Kebetulan Mas, aku bisa menyisihkan modal meski hanya sedikit. Tapi untuk menggali tanah itu,harus pakai tenagamu sendiri lhoMas,bisa kan Mas “

Belum sempat Sumitro memberi jawaban, sebuah pelukan kecil dan ciuman mesra telah disodorkan istri tercintanya. Dilekatkanya bibir istrinya dengan bibir pria yang sedang diliputi kegalauan. Kini pelukan itu telah direnggangkan oleh Hartini, diganti dengan bisikan penuh pesona
“Tolong ya Mas, kali ini aku dibantu, aku pengin lebih bahagia bersamamu”
Sumitropun tak mampu lagi memberi jawaban, yang ada hanya membalas dengan ciuman yang lebih hangat dan mesra, sambil membisikan di telinga istrinya “Kamulah rembulan di atap rumah bambu ini. Aku berjanji tidak akan ke Malaysia demi kamu “.

Minggu, 26 September 2010

PELANGI Di ATAS ILALANG

Mungkin ini hari terakhir aku, ketika sudah melepuh kulit kakiku dan penat seluruh tubuh hampir menggrogoti hidupku busur waktu yang meluncurkan detik demi detik hingga busur waktu berikutnya. Tak segan pula mengencangkan semua otot tubuhku, demi sebuah “prosa hidup” yang mampu bertahan lantaran terselip di padang ilalang, di tengah hiruk pikuk manusia menebarkan kemunafikan dan lalu lalangnya durjana yang menguliti wajah kehormatan insan. Sebuah bisik hati yang menyerah kalah ini segera kutepis,hingga kabur entah kemana.

Aku dan Rosma mulai melekatkan sebuah pelangi,diantara terik matahari, gerimis ataupun hujan badai bahkan dikala langit berniat runtuh, lantaran kepengapan debu dan asap ego manusia. Pelangi itu tiada seberapa indahnya, namun aku dan Rosmapun mampu menitinya, dengan segala senyum Rosma yang “menawarkan hati” kami berdua selalu berpegangan tangan tangan ketabahan hati, dari gangguan durjana yang hanya berisi dasing dan tulang jemunafikan. Mereka layaknya iblis berbaju manusia. Yang siap melahap bilah hidup manusia yang tertatih.

Beruntung, meski aku dan Rosma adalah lengan lengan rapuj, namun pelangi yang kami gambar di langit telah bertaut kokoh di puncak Mahameru “kemulian hati” dan pungak Mount Everest “cita cita yang tak pernah memudar”, sehingga sebesar apapun raksasa Dajjal yang bakal menghempaskan kami selalu kandas di gulung ombak Laut Selatan yang kami semai di lubuk hati. Begitupun Rosma, wanita berkulit putih dengan paras ayu dan berambut ikal, yang pertama aku temui telah tergolek lesu di peraduan dunia yang beraroma hambar.

Sedangkan aku tak lebihnya biji ilalang yang terbawa angina kemarau terhempas dari tempat satu ke tempat lainnya. Bukankah manusia bijak akan terlahir dan dibesarkan dari berbagai benturan yang menderanya. Sehingga jadilah dia manusia yang berhati kokoh layaknya kekokohan benteng Shalahudin Al Ayyubi di negara Mesir. Inilah yang barangkali menjadi kekuatan diriku untuk menggapai tangan Rosma dan mengajak untuknya untuk kembali tegak berdiri, meski di padang ilalang.

Benturan benturan hidup layaknya bumbu penyedap hidangan di atas meja makan bambu di tengan rumah papan dan bertaplak kain lusuh, selalu saja kami hadapi dengan canda ria. Termasuk kala Rosma bercerita tentang rayuan rayuan gombal Om Junaedi yang berniat membeli tubuhnya, gairahnya bahkan sanggup membeli hidupnya.Laki laki tua bangka berhidung belang namun kaya raya itupun sanggup memberikan apa saja asal Rosmapun bersedia menuruti hasratnya mengayuh perahu di telaga yang menghitam airnya. Namun Rosma tiadapun mau bergeming, meski suaminya Adnan Handoyo adalah hanya seorang satpam di kantor perusahaan swasta.

“Lantas kalau aku menuruti kedurjanaan tua bangka itu, siapa yang akan menunggu Anis sama Ilham, Mas”, Rosma bergayut di lenganku. Hasrat hatinya hanya sekedar ngambek mengharap belay kasihku. Akupun tak kalah menggelitik hatinya, mengharap roman mukanya yang merah padam atau malu tersipu, kala aku disodori gambar wajah ayu Rosma penunggu kahyangan Jonggringsaloko tempat bersemayam Bathara Guru.

“Katanya kamu pengin punya mobil”
“Aduh,,Mas Adnan kenapa ngomong kaya gitu, sih !”
“Lho…barangkali aja kamu pengin”
“Aku memang ingin, Mas, Buka hanya mobil. Aku ingin punya rumah tembok yang kokoh kaya kantor kabuipaten. Ya Mas ?”
“Iya aja, pantesan kamu sering ngelamun “
“Nglamun apa “
“Ya , nglamun Om Junaedi, kan ?”
“Memangnya aku wanita segampang itu, Mas. Aku kasihan sama Anis dan Ilham. Aku hanya punya mereka berdua”
“Lantas, aku milik siapa ?”
“Ya sana, kembali aja ke Neng Herwati, cewek Bandung yang genit kaya Hema Malini”

Wajah itulah yang aku tunggu, kala bulan bersemayam dalam dirinya. Sembari dia merobohkan wajahnya di bahuku, ketika itu pula sama sekali hatiku menjadi teduh. Kekhawatiran selama ini yang selalu timbul di hati menjadi sirna. Meski selama ini Om Junaedi menawarkan rumahnya kepada Rosma, sebagai jaminan atas kehangatan yang bakal diterima dari bidadariku telah sirna dan berkeping menjadi debu terbawa angin Gunung Merapi.

Rosmapun kian menghangatkan tubuhnya dengan memeluku lebih rapat. Seakan dia tahu kegetiran hatiku kala mendengar tentang Om Junaedi, pemilik perusahaan tempat Rosma bekerja.

‘Aku melihat Anis dan Ilham tidur nyenyak, itu saja membuat hatiku teduh. Aku pernah meraskan kebahagian semu sebelum Mas Adnan memikatku. Bagaimana rasanya hati teriris dan menjadi berkeping. Aku tak mau terulang yang kedua kali Mas !. Apalagi anak kita lagi lucu lucunya, ada ada saja kelakuan mereka berdua tiap hari. Akupun larut dengan canda mereka, kelakuanku jadi mirip mereka berdua.Kamu bahagia Mas ?”

“Ah, kamu seperti anak kecil aja. Kaya gitu nggak usah kamu tanyakan !”
“Barangkali aja kamu masih mendambakan Neng Herawati, yang kabarnya punya salon yang besar di Bandung. Dia kenes dan genit kan, Mas ?”
“Baru saja kamu tanyakan aku bahagia apa nggak, sekarang kamu ungkit lagi masa laluku”
“Aku jadi cemburu Mas, kalau dengar kisah masa lalumu”
“Kan aku sudap pnya kamu. Lagian Herawati kan sudah marrid sama temenku. Bagiku yang sudah ya sudah ?”
“Tapi Mas kan dulu pernah jadi morfinis, saat kehilangan cewek jelita itu yang penuh janji-janji. Mas frustasikan ? ditinggal sama Herawati “
“Aduh ampun, Ros !. Secuilpun aku nggak bakal mengharap dia lagi. Setelah aku ketemu kamu dengan kekagumanku, aku sudah berniat membenahi diriku. Percaya Rosma ?”

Rosma segera menarik bahuku sembari menyodorkan ciuman hangat kepadaku, lantas pelangi warna warni itupun terbesit di tengah langit. Meski hari telah larut malam, langitpun berjelaga hanya kerlipan bintang bintang tersenyum ceria. Tapi itulah pelangi milik sebuah cinta anak adam yang kokoh terjalin dalam relung hati mereka. Kini dengus nafas dan peluh memnuhi kamar pengantin mereka berdua. Rosmapun menggelepar meniti pelangi di atas illalang. Kedua tangan insan itupun saling bertaut erat di tengah bara cinta yang menyala hingga akhirnya hilang ditelan sang fajar.

****
Waktu terus berjalan hingga sampailah perjalan itu hingga suatu sore, aku melihat Rosma pulang dari kantor dengan bulan yang tiada lagi bersemayam di wajahnya. Bahkan kedua matanya kini sembab. Wajahnya merah padam, pertanda selaksa derita membebaninya. Akupun segera mletakan harian sore yang sempat aku baca. Seribu misteri kini mengganjal halaman hatiku,

“Ada apa Ros !”
“Om Junaedi memang laki laki keparat !”
“Ada apa, dia menyakitimu ?”
“Nggak Mas !”
“Lalu apa “
“Dia kembali merayuku, bahkan kini dia lebih berani lagi?”
“Maksud dia bagaimana “
“Kini dia lebih gila lagi, aku mau diberi rumahnya yang di Magelang sekaligus mobil Xenia. Asal aku mau menempati rumah itu “
“Lantas aku mau tinggal di mana ?”
“Engkau dan anak-anak tetap di sini”
“Wong edan !, lantas kamu mau “
“Apa Mas sudah nggak percaya sama aku”
“Ya aku percaya Ros, tapi mengapa kau pulang pulang sembab mata kamu”
“Sebab kalau aku tolak, lebih baik dia nggak ngliat aku lagi. Dia tidak ingin tiap hari melihatku lagi”.
“Kurang ajar, besok aku ke kantormu!”
“Nggak usah , Mas. Dia melangkah seperti ini karena dia siap menerima resiko apapun. Dia mengancamku, apabila kamu berulah macam macam, dia tidak segan segan menyakitimu?”
“Aku tak perduli, masa laluku penuh dengan kekerasan, akupun tidak takut siapapun !”
“Aku tahu itu, tapi akupun ingin masalah ini cepat selesai.Makanya aku memilih keluar dari perusaaan itu”

Angin sore melintas di beranda rumah sederhana itu. Daun daun pisang saling bergesekan menimbulkan suara gemerisik. Tiupan angin itupun membuat mereka mampu mendinginkan bara api amarah dalam hati merek masing masing

“Mas aku takut ?”
“Takut sama siapa, biar aku hadapi semua masalahmu”
“Aku kehilangan pekerjaan, bagaimana nanti Anis dan Ilham”
“Ros, yang Diatas Sana juga mendengar keluh kesah kita, sebagai manusia yang jadi korban ketidakadilan dan kedurjanaan manusia sombong. Kamu jangan pernah takut dengan kehidupan. Kita beruntung selama ini kehidupan justru mendewasakan kita, sehingga kita sudah tidak mampu lagi merasakan suatu penderitaan.Percayalah, Ros ! bila masih ada cakrawala di ufuk timur, pasti semua kehidupan akan ditebarkan oleh Sang Maha Pencipta, asalkan kita pandai bersyukur “

Angin Gunung Merapi bertambah kencang, lantaran mereka segera ingin mendengar prosa romantis anak adam yang saling mengisi kehidupan dengan cinta yang kokoh, meski apaun halangan yang menghadang. Angin gunung itupun makin bertiup kencang lantaran memburu angina angin kembara lain, agar segera duduk bersimpuh di beranda rumah mungil itu. Adnan dan Rosma kini kembali larut dalam canda ria kedua anak mereka.

Selembut Benang Sutra

Wajah papinya menyimpan beribu bara yang siap membakar hasrat, angan sekaligus cintanya yang lembut, yang terpancar dari pribadi Anggun. Kala sore hari di ruang tamu berdampingan dengan mamanya, yang juga menghadang Anggun dengan sorot mata yang liar, bagai sang singa jantan yang siap menerkam kambing yang tiada berdaya. Anggunpun berusaha menyelipkan keberanian untuk menghadapi kedua insan yang sangat dicintainya itu.

Anggun hanya duduk dengan hati yang mengembara ke tiap sudut langit, setiap cakrawala di kaki langitpun menawarkan taman bunga untuk bersemayamnya dia dan Rony, mahasiswa fakultas tehnik yang papa. Namun meskipun kepapaanya itu menggayuti sejak dia di bangku SMA, upaya untuk melanjutkan sudi tak kunjung reda.

Hingga suatu senja, langit berwarna cerah. Bintang mulai menghitung awan yang memerah. Bulanpun menunjukan wajahnya, mulai memberi salam canda kepada bintang senja yang juga belum tahu perasaan Anggun menghadapi hati insan berdua yang telah lekang, yang tiada mau peduli sebuah hati yang lembut bagaikan kain sutra. Adalah hak Anggun sebagai manusia untuk menambatkan hatinya yag bening kepada Rony. Namun mereka berdua berniat untuk menepiskan, apa yang ada di hati Anggun.

Anggun hanyalah sebilah hati yang sama sekali tiada mampu menghardik kemauan mereka. Tercampaklah Anggun dengan pergulatan antar “cintanya yang sebening sutra” dengan cinta kasih kepada kedua orang tuanya. Namun hidup adalah hidup, manusia sama sekali tidak mau belajar dari apa yang pernah dialami dahulu.

Mama papanya mengemasi hidup menyatu dalam titian cinta sebening embun. Mereka berdua selalu bersama dalam perguliran suka dan duka. Merekapun tahu persis tentang cinta antara dua anak manusia, yang berusaha menerjang apa saja meskipun seribu aral menghadang. Justru warna warni kehidupan kedua orang tuanya yang telah menempa kepribadian Anggun. Namun mengapa pula mereka berusaha mengharubirukan sesuatu yang lembut, yang bersemayam di hatinya. Demikian desah hati cewek yang kaya raya namun bersahaja..

“Anggun, mama papa tahu persis getar hati setiap manusia yang lagi mengalami seperti kamu. Mama papapun pernah muda”. Suara parau dan serak itu menggema mengisi setiap udara yang ada di ruang tamu itu. Suara datar itu keluar dari mulut Wijiyo, pengusaha sukses di Jogjakarta.

Anggun hanya mampu berlarian dari awan satu ke awan lainnya, di langit biru yang telah menyodorkan kedua tanganya untuk menerima Aggun kala hatinya pilu. Anggun sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“Apa yang bisa kamu harapkan dari Rony, yang hanya pedagang lesehan di malioboro. Aku nggak tega kalau kamu berumah tangga dengan dia, anaku !. Aku Ibumu, tidak mungkin akan membiarkan kamu menderita. Jauhi Rony, anaku, kamu kan masih muda.Kamu cantik lho. Banyak pria yang mengejarmu, anaku ?. Mereka mau memberikan apa saja demi mendapatkanmu”

“Betul mamamu, anaku !, papi sudah pilihkan pria yang segalanya lebih baik dari Rony. Dia nggak kalah ganteng dengan Rony, apa sih Rony hanya penjaja barang seni di malioboro. Sementara Martin, yang aku kenalkan dulu sama kamu sudah lulus dari amerika. Kamu bisa tinggal di Jakarta di blok perumahan yang elit. Mama dan aku tentunya akan bahagia, anaku !”

“Tapi, bukan itu semua yang aku cari, Pap !”
“Lalu apa yang kamu cari dalam hidup ini, Anggun !!. Cobalah mengerti maksud mamamu ini. Lagian semua bahtera rumah tangga semuanya berujung ke materi, untuk keperluan hidup ini. Cobalah mengerti, ya sayangku !” .Mamanya kini sudah berada di sampingnya, kedua tanggan Anggunpun di renggutnya. Pertandan wanita ini sama sekali tidak mau kehilangan putrid semata wayangnya.

“Mam, Anggun bahagia disamping Mas Rony. Itu saja sudah cukup !”
“Anggun !” Suara petir di tengah hujan gerimis masih kalah mencekamnya dibanding pekik papanya, yang sudah membara hatinya.

“Sabarlah Pap, jangan marah dulu. Bagaimanapun dia anak kita satu satunya. Kita berdua sudah bertekad bakal membahagiakan, bukanya menyakitinya, Pap !”

“Apa karena papa menguliahkanmu di psychology, sehingga kamu sok tahu tentang hidup. Oh…Anggun, kamu belum apa apa, cobalah kamu mengerti maksud papamu ini, yang sudah banyak makan garam. Mengerti..!!!”
“Sudahlah Pap, biar mama saja yang bicara !”
“Mam, Anggun mengerti perasaan mama dan papa. Tapi Anggun nggak bisa menerima pria lain. Aku sudah lama mencoba melupakan Mas Rony demi mama dan papa. Mas Ronypun menerima dengan besar hati. Karena Mas Rony sadar dia akan mengecewakan mama dan papa “

‘Lantas mengapa kau tidak melupakan saja anak itu, Anggun ?” Papanya dengan nafas yang panjang lantaran tidak mampu lagi menahan amarahnya. Menuntut Anggun melakukan apa yang dia tidak sangup lakukan.

“Papa, kejam…aku anakmu Pap, mengapa papa tega ?”
“Masa bodoh, anaku. Ini semua papa lakukan demi masa depanmu. Setidak tidaknya kalau kamu tidak mau menerima Martin. Carilah pria lain yang sanggup membahagiakanmu, bukan pemuda itu.!”

“Tapi aku…”
“Sudahlah Anggun, papa sudah tidak sabar lagi, papa sudah memberi waktu cukup untuk kamu. Kamu satu satunya putriku, masa depanku, buah hatiku. Maka papa sudah tidak mau main main lagi. Dari kecil hingga besar kamu papa manjakan. Tapi yang satu ini papa tidak mau mengalah,”
“Sabarlah, Mas Broto !, Anggunkan anakmu “
“Justru karena dia anaku, Mam. Maka aku harus bertindak tegas “
“Tapi Mas Broto !, Anggun anaknya lembut, Mas Broto jangan terlalu keras. Atau sekarang mama yang bicara saja”

“Biar aku yang bicara. Inilah anakmu yang selalu kamu manjakan, sehingga seperti ini jadinya. Sekarang papa beri pilihan dalam tiga hari. Kamu putuskan anak itu atau papa dan mama yang akan keluar dari rumah ini. Ambilah rumah ini seisinya beserta dengan deposito papa. Deposito itu sudah papa atas namakan kamu,ambilah. Hiduplah dirumah ini dengan pria gembel itu “

“Mas Broto !!!”.. Suara terakhir di ruang tamu Soebroto dan semuanya kini di bius pekatnya malam.

***
Rony terperanjat dan berbunga hatinya kala sebuah taksi memasuki ruangan halaman rumah kosnya di Pasar Telo. Ronypun telah menebak sebelumnya, kalau sabtu sore ini “jelita pujaan hatinya” bakal menemui dia, untuk melabuhkan perahu rindu di tengah samudra ganas yang menebar ombak bergulung. Ombak yang menghempaskan angan dihatinya untuk meniti hari hari kehidupanya bersama dengan Anggun.

Anggun melepas senyuman yang tipis di balik wajahnya yang pucat dan mata yang sembab, yang membuat deru jantung cowok ganteng itu bertambah cepat memburu misteri yang ada di balik wajah ayu kekasihnya itu.

“Aku sudah membayangkan jauh jauh hari sebelumnya, papa kamu suatu saatpun akan bertindak seperti ini !”
“Lantas kita hatus bagaimana ?”
“Anggun , aku adalah manusia yang sudah banyak mengenyam penderitaan. Karena aku hidup hanya dengan seorang ibu yang ditinggal bapaku sejak aku duduk di SMP. Aku bisa kuliah di fakultas tehnik karena aku mengais rejeki sendiri dengan cara seperti ini”
“Apa hubunganya dengan masalah kita”
“Justru inilah yang menjadi alasan utama papamu menolak aku “
“Kok kamu tega bicara seperti ini, Mas !”
“Anggun, sudah saatnya kamu mengenal dunia realita, tinggalkan jauh jauh kata hatimu. Sekarang berpikirlah dengan realita !”
“Jadi, kamu mau meninggalkanku, Mas Rony ?”
“Aku tidak akan meninggalkanmu, Anggun. Meski suatu saat kau menjadi milik orang lain. Kamupun tetap dalam hatiku”
“Ah,,aku jadi tak mengerti. Aku tak bisa jauh darimu,, “
“Cobalah untuk mengerti, aku siap kehilangan apa saja dalam hidupku.Karena aku sudah terbiasa kehilangan hidupku sendiri. Tapi kamu anak manusia yang masih memiliki segalanya, jangan kau sia siakan sebuah harapan demi masa depanmu. Sudahlah aku siap kamu tinggalkan, kamu harus berbahagia bersama mama dan papamu “

Tubuh Rony kini, kini berguncang setelah kedua tangan Anggun merengkuhnya, Kini dara ayu yang bersahaja sesuai namanya sudah berada di pelukan Rony. Anggun sama sekali tidak menyangka Rony memilih jalan seperti itu, padahal jauh dalam hatinya dia siap menghadapi apapun yang terjadi demi sebuah cinta. Anggunpun tahu bahwa cintanya kepada cowok malang ini, bukanlah sesuatu yang buta melainkan cinta yang bening dan lembut. Selembut benang benang sutra yang diharapkan bisa saling merajut membentuk kain sutera.

“Anggun, cobalah mengerti, kau harus bahagia. Bukan mengais kehidupanmu nanti dengan cara seperti aku. Kamu dan aku tidak pernah akan merasa kehilangan bila kita saling menerima atau kehilangan segala sesuatu dengan ikhlas. Kamu kan nggak mau kehilangan mama dan papamu, sayang ?’

Anggun mulai melepas pelukannya secara pelan meski dia sama sekali belum siap menerima kenyataan ini. Antara papa dan kekasihnya, tiada yang mampu dia pilih. Hanya desir angin malam Kota Jogja yang kini membaluti tubuh kedua anak Adam.
‘Hari sudah malam, aku antar kau pulang. Pasti mama dan papamu mengkhawatirkanmu”.

Anggun memilih berjalan kaki menuju rumahnya melewati jalan jalan kota Jogja yang mulai lengang. Keduanya melewai malam ini sebagai malam terakhir sebuah pertemuan cinta anak manusia yang lembut, agung sekaligus romantis. Meski harus berakhir di pintu gerbang rumah Anggun yang kokoh, yang menjadi saksi akan perpisahan kedua insan itu. Meski Anggun masih belum mampu menerimanya.

“Mas Rony, terimalah aku lagi, bila suatu saat aku kembali”. Ronypun hanya menganggukan kepalanya sembari melepas kedua tangan Anggun, yang hilang di kegelapan malam halaman rumahnya.